Sebagaimana berita yang dilansir oleh NU Online.or.id. Forum Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan
Singapura (MABIMS) bersepakat untuk menggalakan edukasi kepada para
pemuda di negara anggota MABIMS agar dapat memanfaatkan sarana media
sosial (medsos) dengan bijak dan positif.
Salah
satu rumusan hasil MABIMS 18 di Kuala Lumpur ini melahirkan kesepahaman
perlunya gerakan bersama mengoptimalkan energi para pemuda dalam
memanfaatkan media sosial untuk kegiatan kewirausahaan, ekonomi, serta
membuat aplikasi yang berguna bagi masyarakat. Di samping itu, edukasi
juga diperlukan untuk mengembangkan tradisi tabayyun terkait informasi
yang beredar di media sosial.
Sebelumnya,
Menteri di Jabatan Perdana Menteri Malaysia Mejar Jenderal Dato Seri
Jamil Khir bin Haji Baharom secara eksplisit bahkan mengaku prihatinan
dengan pesan fitnah dan kebencian yang berkembang di media sosial.
Akan
hal ini, Menteri Komunikasi dan Informasi Merangkap Menteri bertanggung
Jawab Bagi Ehwal Masyarakat Islam Yacoob Ibrahim mengatakan bahwa media
sosial memang dunia anak muda. Karenanya, pendekatan yang diperlukan
bukan melarang tapi mendorong mereka untuk menyalurkan potensinya secara
positif.
Menurut Yacoob, para pemuda Singapura
diajak untuk membuat enterpreneurship berbasis IT. Mereka diajak
membuat aplikasi yang akan memberikan kebaikan kepada umat Islam.
Pengiran
Dato Seri Setia Haji Mohammad bin Pengiran Haji Abdul Rahman selaku
Menteri Hal Ehwal Ugama Negera Brunei Darussalam menyambut baik program
yang sudah dilakukan di Singapura. Menurutnya, kebanyakan pemuda masih
sebatas menjadi pengguna TI, bukan sebagai pencipta. Karenanya, upaya
untuk mengajak generasi muda lebih produktif harus dijadikan gerakan
berasama.
Menteri Agama RI Lukman Hakim
Saifuddin menegaskan hal yang sama. Menurutnya, era digital adalah hal
niscaya dan tidak bisa dielakkan. Masalah muncul karena keterlambatan
upaya dalam menyiapkan masyarakat untuk memahami hakikat dunia maya.
"Upaya
kita untuk menyadarkan masyarakat dalam menerima era yang begitu cepat
itu mengalami keterlambatan. Percepatan digitalisasi melampaui kesadaran
masyarakat kita untuk menyikapi hal ini," ujar Lukman.
"Kita harus memberikan edukasi kepada umat kita agar bijak dalam menggunakan media sosial," tambahnya.